Senin, 02 Oktober 2017

Characteristic of Sea Current in Benoa Bay Waters – Bali

Jurnal Geomatika big: VOL 23, NO 1 (2017)

Tanto, Try Al, Ulung Jantama Wisha, Gunardi Kusumah, Widodo S Pranowo, Semeidi Husrin, Ilham, and Aprizon Putra. 2017. “Karakteristik Arus Laut Perairan Teluk Benoa – Bali.” Jurnal Ilmiah Geomatika 23 (1): 37–48.

KARAKTERISTIK ARUS LAUT PERAIRAN TELUK BENOA – BALI

(Characteristic of  Sea Current in Benoa Bay Waters – Bali)

Try Al Tanto1, Ulung Jantama Wisha1, Gunardi Kusumah1, Widodo S. Pranowo2, Semeidi Husrin2, Ilham1, dan Aprizon Putra1
1Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, BRSDMKP KKP
2Pusat Riset Kelautan, BRSDMKP KKP
Jalan Raya Padang – Painan Km.16 Bungus – Kota Padang
Diterima (received): 07 Maret 2017;  Direvisi (revised): 17 Mei 2017; Disetujui untuk dipublikasikan (accepted): 19 Juli 2017

ABSTRAK
Perairan Teluk Benoa merupakan kawasan semi tertutup dengan mulut sempit yang memisahkan antara Pulau Serangan dan Tanjung Benoa. Arus laut perairan Teluk Benoa, yang dekat pantai berperan penting dalam proses transpor sedimen di daerah pantai yang merupakan daerah gelombang mulai pecah hingga ke arah garis pantai. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik arus laut yang terjadi, analisis dari penyajian secara scatter plot dan stic plot, sehingga diketahui faktor dominan pembangkit arus tersebut. Data arus laut diperoleh dari hasil pengukuran pihak swasta menggunakan alat ukur ADCP. Analisis arus laut dengan scatter dan stic plot untuk melihat arah dominan arus, serta melihat hubungan kejadian arus dengan pasang surut air laut, selain itu juga dengan perhitungan kisaran kecepatan arus yang terjadi selama pengukuran. Hasil yang diperoleh adalah arus laut di perairan Teluk Benoa berkisar antara 0,001 - 1,715 m/s (pengamatan bulan Juni - Juli 2015). Kecepatan arus pada mulut teluk lebih besar (maksimal sebesar 1,715 m/s), sedangkan di dalam teluk kecepatan arus lebih rendah (maksimal sebesar 0,883 m/s). Pada saat air pasang, arah arus dominan ke arah dalam teluk dan saat air laut surut arah dominan arus ke arah luar teluk. Kesimpulan yang diperoleh adalah kejadian arus laut di perairan Teluk Benoa lebih dominan berupa arus pasang surut. Saat kondisi bulan purnama kecepatan arus lebih tinggi dari pada saat posisi bulan separuh (kuarter pertama atau ketiga). Pada umumnya, pada mulut teluk memiliki arus yang cukup tinggi sebagai akibat celah sempit, dengan pola yang tidak beraturan akibat pengaruh perlintasan kapal dan aktivitas keluar masuk teluk.
Kata kunci: arus laut, karakteristik arus laut, arus pasang surut, Teluk Benoa

ABSTRACT
Benoa Bay waters is a semi-enclosed area with quite a narrow mouth that separates the Serangan Island and Tanjung Benoa. Ocean currents in Benoa Bay, which is close to the beach plays an important role in the process of sediment transport in the beach area where is the waves began to break up towards the shoreline. The research objective was to know the characteristics of ocean currents that occur, from the analysis of the scatter and stic plot, so it’s known that the dominant factor of the current generator. The data of ocean currents obtained from the measurement of private parties using ADCP measuring instrument. Analysis of ocean currents with scatter and stic plot to see the dominant direction of the current, and to see the relationship of current occurrence with the tide, besides also with the calculation of current velocity. The results obtained are ocean currents in the Benoa Bay waters ranged from 0,001 to 1,715 m/s (observations in June-July 2015). Flow velocity at the mouth of the bay is greater (maximum of 1,715 m/s), while in the lower bay flow speed (maximum of 0,883 m/s). At high tide, the dominant current direction towards the bay and vice versa during low tide predominant direction of flow towards the outside of the bay. The conclusion is the incidence of ocean currents in the Benoa Bay waters is predominantly influenced by the tidal current. When the full moon conditions the current velocity is higher than at half month position. In general, at the mouth of the bay has a current high enough as a result of the narrow gap, with irregular pattern due to the influence and activities of ship crossings in and out of the bay.

Keywords: ocean current, characteristics of ocean current, tidal current, Benoa Bay

PENDAHULUAN

Wilayah perairan Teluk Benoa terletak pada bagian Tenggara Pulau Bali, merupakan kawasan semi tertutup dengan mulut teluk cukup sempit yang memisahkan antara Pulau Serangan dan Tanjung Benoa. Teluk Benoa merupakan perairan lintas Kabupaten Badung dan Kota Denpasar (Sudiarta et al., 2013), untuk kapal – kapal yang keluar masuk Pelabuhan Benoa, tentunya perairannya sangat ramai untuk dilintasi. Ditambah lagi, pada kawasan ini juga merupakan salah satu destinasi pariwisata di Pulau Bali, kawasan Teluk Benoa banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, pada perairannya juga sudah terjadi beberapa reklamasi berupa reklamasi Pulau Serangan, Pelabuhan Benoa, dan juga jalan Tol yang dapat merubah secara signifikan kawasan perairan di dalam teluk. Salah satu parameter di perairan Teluk Benoa yang sangat penting dan mendapatkan pengaruh cukup tinggi dari segala aktivitas yang ada di perairan tersebut adalah arus lautnya.

Arus laut (sea current) adalah perpindahan massa air dari satu tempat menuju tempat lain, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti gradien tekanan, hembusan angin, perbedaan densitas, atau pasang surut (Pariwono, 1999). Secara umum, karakteristik arus laut di perairan Indonesia dipengaruhi oleh angin dan pasang surut (Sugianto dan Agus, 2007). Di perairan dangkal (kawasan pantai), arus laut dapat dibangkitkan oleh gelombang laut, pasang surut laut atau sampai tingkat tertentu angin. Di perairan sempit dan semi tertutup seperti selat dan teluk, pasut merupakan gaya penggerak utama sirkulasi massa airnya (Dahuri et al., 2013). Sedangkan arus yang disebabkan oleh angin pada umumnya bersifat musiman, dimana pada satu musim arus mengalir ke satu arah dengan tetap dan pada musim berikutnya akan berubah arah sesuai dengan perubahan arah angin yang terjadi (Pariwono, 1999).

Sistem angin Pasat Timur Laut dan Pasat Tenggara merupakan penyebab utama timbulnya sistem Arus Khatulistiwa (utara dan selatan) yang bergerak ke arah barat, dan Arus Sakal Khatulistiwa yang bergerak ke arah timur (Pranowo et al., 2006). Arus laut perairan Teluk Benoa, yang dekat dengan pantai berperan penting dalam proses transpor sedimen di daerah pantai yaitu daerah near shore yang merupakan daerah gelombang mulai pecah hingga ke arah garis pantai. Arus juga dapat menyebabkan terjadinya erosi pada pantai dan gerusan (scouring) pada daerah sekitar bangunan pantai (Danial, 2008). Dalam hal ini, pergerakan arus laut di perairan Teluk Benoa juga sangat penting terhadap pergerakan sedimen yang secara umum banyak mengendap pada dasar perairannya. Menurut Sudiarta et al. (2013), pergerakan massa air di dalam Teluk Benoa dominan merupakan pergerakan massa air pasang dan surut air laut, sedangkan faktor aliran air sungai sangat kecil pada musim kemarau tetapi signifikan pada musim hujan. Hasil kajian Hendrawan et al. (2005), serta Ardana dan Mahendra (2009), menunjukkan bahwa komponen arus pasang surut yang paling berpengaruh di Teluk Benoa adalah komponen M2. Arus pasut tersebut masuk melalui mulut teluk (antara Pulau Serangan dan Tanjung Benoa).

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik arus laut yang terjadi di perairan Teluk Benoa, menentukan arah arus secara umum, serta mengetahui faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian arus tersebut. Informasi tentang arus ini sangat penting dilakukan, harapannya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan terkait dengan isu hangat tentang rencana reklamasi di kawasan Teluk Benoa.

METODE

Data arus diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan alat ukur arus ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) dapat dilihat pada Gambar 1 Pengukuran arus menggunakan metode euler (tetap), yang dilakukan oleh Konsultan dari PT. TWBI. ADCP adalah instrumen yang memantulkan suara partikel untuk mengukur kecepatan arus air untuk berbagai kedalaman (Elizabeth N et al., 2009).

Data arus terukur selama 29 hari, terdiri dari 3 titik lokasi pemasangan (disajikan pada Gambar 2) di kawasan perairan Teluk Benoa Provinsi Bali, yaitunya titik 1 (lokasi 115°13'50,46" BT dan 8°45'27,04" LS) selama 10 hari dari tanggal 20 – 30 Juni 2015; titik 2 (lokasi 115°13'12,50" BT dan 8°45'8,60" LS) selama 17 hari dari tanggal 25 Juni – 11 Juli 2015; serta titik 3 (lokasi 115°12'29,33" BT dan 8°44'58,24" LS) selama 2 hari dari tanggal 2 – 3 Juli 2015. Selain itu, juga digunakan data pasang surut perairan Teluk Benoa saat pengukuran arus laut tersebut, yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial yang bekerja sama dengan University of Hawaii Sea Level Center – USA melalui UNESCO - Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC). Data pasang surut diperoleh pada tahun 2016, melalui persuratan ke BIG dan administrasi lainnya.

Sumber: Stewart R.H, 2008
Gambar 1. Alat Ukur Arus, ADCP

Sumber: Google Earth, 2016 
Gambar 2. Titik Pengukuran Arus Laut – Alat ADCP

Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh pengaruh gaya internal dan gaya eksternal. Gaya internal yang mempengaruhi arus laut adalah perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan up welling. Sedangkan gaya eksternal yang mempengaruhi arus laut adalah angin, gaya gravitasi, gaya tarik matahari dan bulan terhadap bumi, gaya tektonik dan gaya coriolis. 

Sistem arus yang mengalir berdekatan dengan lokasi kajian adalah ARLINDO (Arus Lintas Indonesia), salah satu alirannya mengalir di Selat Lombok, dapat terlihat pada Gambar 3 Berdasarkan perkiraan model, secara umum massa air dari ARLINDO tersebut berasal dari massa air Pasifik Utara 74% dan 26% Pasifik Selatan (tanpa Halmahera), namun dengan Halmahera komposisi tersebut 92% dari Pasifik Utara dan 8% Pasifik Selatan (Morey et al., 1999). Arus yang membawa massa air dari Samudera Pasifik Utara berupa Arus Utara Khatulistiwa (NEC) menuju ke barat dan bercabang di timur Filipina, ke utara menjadi Arus Kuroshio dan ke selatan menjadi Arus Mindanao (MC). Massa air yang telah terbawa oleh arus ini, oleh Pusaran Mindanao (ME) dibawa masuk ke jalur ARLINDO di lapisan bawah permukaan. Selain itu, sebagian Arus Mindanao yang mengalir ke selatan, ada yang berbelok arah di sekitar Pusaran Mindanao dan menjadi Arus Sakal Khatulistiwa Utara (NECC). Untuk massa air dari Samudera Pasifik Selatan yang masuk ke perairan Indonesia terbawa oleh Arus Pantai Papua (NGCC), merupakan perpanjangan dari Arus Khatulistiwa Selatan Pasifik (SEC), sebagian besar berbelok arah ke Samudera Pasifik oleh Pusaran Halmahera (HE), dan mengalir bersama Arus Sakal Khatulistiwa Utara (NECC). Sebagian besar massa ARLINDO keluar menuju ke Samudera Hindia melalui Pintasa Timor, dengan transpor yang kecil melalui Laut Sawu dan Selat Lombok. 

Pengolahan data arus laut dilakukan dengan menggunakan Golden Software Grapher untuk membuat stick plot arus, dari data kecepatan dan arah arus. Selain itu juga menggunakan Software Excel untuk perhitungan arus sehingga dapat dilihat kisaran kecepatan arus pada waktu tersebut, serta pengolahan arus scatter untuk melihat arah arus pada umumnya. Analisis data arus laut sangat penting, karena berperan besar dalam pengangkutan sedimen yang berada di dalam maupun luar teluk sendiri.

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pada penempatan alat pengukur arus ADCP 1 pada bagian luar teluk seperti yang disajikan pada Gambar 2., dapat terlihat kondisi arah arus yang terjadi tersebut, baik secara scatter plot disajikan pada Gambar 4 dan stic plot pada Gambar 5. Secara umum, saat kondisi air pasang, arah arus dominan menuju ke arah daratan/arah barat laut (ke dalam teluk), dan sebaliknya saat air surut arah arus menuju ke laut lepas/arah tenggara (ke luar teluk) disajikan pada Gambar 4. Namun kecenderungan arah arus pada cell 1, yang merupakan data arus permukaan memiliki arah sedikit berbeda, yaitunya saat air pasang arah arus ke arah barat (masih ke arah daratan/dalam teluk) dan saat air surut arah arus ke arah timur (masih ke arah laut lepas/luar teluk). Hal ini dapat terjadi karena kondisi pada permukaan air laut lebih banyak terpengaruh oleh aktivitas yang terjadi di sekitarnya, berupa pengaruh acak dari lalu lalang kapal yang beraktivitas di perairan Teluk Benoa. Sedangkan arus laut yang terjadi di bagian bawah perairan lebih teratur tanpa pengaruh acak dari aktivitas tersebut. Kondisi angin yang tercatat pada stasiun pengamatan terdekat (Bandara Ngurah Rai Denpasar), nilai rata-rata bulan Juni – Juli 2015 adalah sebesar 7 – 8 Knot, dengan arah 100 - 110° (Tabel 1). Dapat terlihat bahwa kondisi angin tersebut dominan menuju arah Timur – Tenggara atau keluar dari arah teluk. Hal ini menunjukkan hanya sedikit pengaruh angin saat arus terjadi waktu air laut menuju surut, bahkan pada saat kondisi air laut menuju pasang, tidak terlihat sama sekali pengaruh dari angin tersebut. 

Kecepatan arus di lokasi ADCP 1 (lokasi luar teluk) pada rentang tanggal pengukuran tersebut adalah 0,001 - 0,883 m/s, terjadi arus cukup rendah pada saat-saat tertentu (hampir seperti tidak ada arus sama sekali) dengan kecepatan sebesar 0,001 m/s. Rentang waktu pengukuran pada lokasi ADCP 1 ini termasuk pada saat bulan perbani, sehingga nilai maksimum kecepatan arus bukan yang tertinggi dari ke tiga titik lokasi pengukuran arus.
(a)
(b)
Sumber: The Effect of Halmahera on the Indonesian Throughflow, 1999 
Gambar 3. Aliran Arus Permukaan di Indonesia: (a) Sistem Arus Permukaan & Arlindo; (b) Vektor Arus Rerata Tahunan

Gambar 4. Scatter Plot Arus Titik ADCP 1 (20 – 30 Juni 2015).

Tabel 1. Data curah hujan dan angin rata-rata Bandara Ngurah Rai Denpasar tahun 2015.
Sumber: Hasil Pengukuran BMKG Tahun 2015 (diperoleh tahun 2016).

Walaupun berada di luar teluk yang dapat dipengaruhi selain dari pasang surut saja, namun masih terlihat pengaruh dominan pasang surut air laut terhadap kejadian arus tersebut disajikan pada Gambar 6. Pola dari kecepatan dan arah arus hampir sama dengan kondisi pasang surut air laut, yang terjadi secara umum dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut. Berkaitan dengan sistem arus yang terjadi di dekat perairan ini (ARLINDO), tidak terlihat adanya pengaruh Arus Lintas Indonesia secara signifikan terhadap kejadian arus di sekitar Teluk Benoa, yang secara umum melewati Teluk Lombok dari Pasifik Utara. Menurut Harold V. Thurmann (2010), apabila pola arus di suatu perairan menunjukkan pola yang fluktuatif mengikuti pasang surut, maka arus pasang surut merupakan arus yang dominan pada perairan tersebut. Terlihat dari Gambar 6 tersebut, saat muka air berada pada puncaknya ataupun pada posisi paling rendah, terlihat kecepatan arus menjadi sangat rendah, dapat terjadi pada kondisi tersebut, kondisi air laut menjadi stagnan. Yuningsih (2011) dan Sutirto et al. (2014), menyatakan bahwa pada saat kondisi air tinggi/pasang maksimum dan air rendah/surut minimum kecepatan arus relatif lebih kecil atau mendekati nol (slack water). Namun, pergerakan air laut akan tetap ada karena efek momentum (Hadi dan Radjawane, 2011; Theoyana, T. A et al., 2015). Nilai kecepatan arus dapat mencapai maksimum ketika muka air laut sesaat akan menuju nilai tertinggi dan juga sesaat menuju surut terendah.
Gambar 5. Stick Plot Arus Titik ADCP 1 (20 – 30 Juni 2015).

Gambar 6. Perbandingan Arus (ADCP 1/luar teluk) dengan Pasang Surut.

Pengukuran arus pada lokasi ADCP 2 berada pada mulut teluk, terjadi arus yang tidak beraturan disajikan pada Gambar 7. Hal ini dapat terjadi karena pada mulut teluk kondisi arus dapat dipengaruhi banyak faktor, oleh kondisi yang terjadi pada luar teluk dan juga bagian dalam teluk. Kondisi arus dapat dipengaruhi oleh gelombang pecah, pasang surut air laut, serta juga dengan aktivitas lalu lalang kapal. Waktu pengukuran pada lokasi ADCP 2 ini dilakukan dengan kondisi bulan purnama, sehingga pada waktu tersebut terjadi tinggi muka laut yang paling tinggi dan surut air laut paling rendah. Dalam hal ini, saat air laut bergerak menuju pasang maupun air laut menuju surut, akan dapat membuat arus pasut yang cukup kuat, sehingga mencapai kecepatan arus maksimum sebesar 1,715 m/s (kisaran 0,001 - 1,715 m/s) disajikan pada Gambar 7 dan Gambar 8. Alasan lainnya adalah karena lokasi pengamatan yang berada persis di mulut teluk yang pada dasarnya berupa celah sempit, sehingga dapat menghasilkan kecepatan arus yang lebih besar dibandingkan dengan arus yang berada di dalam maupun luar teluk (persamaan kontinuitas pada sifat fluida bergerak). Pada rentang waktu tersebut juga terjadi arus dengan kondisi sangat lemah yaitu sebesar 0,001 m/s. Untuk arah arus secara umum di mulut teluk ini adalah ke arah barat daya saat air laut menuju pasang dan arah timur laut saat air laut menuju surut, yang dapat berarti kejadian arus dominan dipengaruhi oleh kondisi tinggi muka air laut di perairan Teluk Benoa. Semakin terlihat pengaruh dari pasang surut pada Gambar 9, grafik kecepatan arus terlihat memiliki periode yang hampir sama dengan kejadian pasang surut air laut.

Gambar 7. Scatter Plot Arus Titik ADCP 2 (25 Juni – 11 Juli 2015).

Gambar 8. Stick Plot Arus Titik ADCP 2 (25 Juni – 11 Juli 2015).

Gambar 9. Perbandingan Arus (ADCP 2/Mulut Teluk) dengan Pasang Surut. Pengukuran

Sama seperti halnya kejadian arus pada titik pengukuran 1, nilai kecepatan arus paling rendah terutama terjadi saat kondisi muka air paling puncak dan juga paling rendah, serta kecepatan arus tertinggi terjadi saat muka air menuju puncak tertinggi ataupun saat menuju surut terendah.

Pengukuran arus laut di lokasi ADCP 3 berada pada area dalam teluk, cukup dekat dengan Pelabuhan Benoa (± 350 m). Kisaran arus dalam rentang waktu pengukuran di lokasi tersebut adalah sebesar 0,005 – 0,802 m/s disajikan pada Gambar 10 dan Gambar 12. Dari 3 lokasi pengukuran arus di perairan Teluk Benoa, pada lokasi titik 3 ini terjadi rentang nilai kecepatan arus paling rendah. Hal ini dapat terjadi karena lokasi di dalam teluk lebih dominan hanya dipengaruhi oleh pasang surut, sedangkan pengaruh gelombang pecah dan oleh angin sangat kecil. Selain itu, dibandingkan 2 lokasi lainnya, pengaruh dari lalu lalang kapal dan aktivitas lainnya di sekitar lokasi ini kemungkinan juga lebih kecil. Arah arus pada lokasi ADCP 3 ini (dalam teluk) yaitunya arah barat daya (ke arah dalam teluk) saat air laut menuju pasang disajikan pada Gambar 10 dan arah timur laut saat air laut menuju surut, dan terlihat arah dominan tersebut mengikuti alur air yang ada di dalam teluk dekat dengan lokasi pengamatan ini.

Gambar 10. Scatter Plot Arus Titik ADCP 3 (2 – 3 Juli 2015). Gambar

Untuk hubungan antara kejadian arus laut dan pasang surut air laut di perairan Teluk Benoa, dapat dilihat dari Gambar 11. Sangat terlihat jelas, bahwa secara umum kejadian arus pada titik ini sangat dipengaruhi oleh kejadian pasang surut air laut, yang mana saat tinggi muka air menuju pasang dan juga menuju surut, kecepatan arus menjadi lebih tinggi, membentuk grafik yang menyerupai grafik pasang surut air laut.

Gambar 11. Perbandingan Arus (ADCP 3/dalam teluk) dengan Pasang Surut.
Gambar 12. Stick Plot Arus Titik ADCP 3 (2 – 3 Juli 2015).

Kondisi arus secara spasial disimulasikan dalam kondisi air laut saat pasang dan juga saat air laut surut, dalam 4 kondisi yaitunya kondisi pasang purnama, surut purnama, pasang perbani dan surut perbani. Pada kondisi pasang purnama, kecepatan arus berkisar antara 0 – 1,35 m/s, dengan kecepatan arus tertinggi berada pada bagian Selatan Pulau Serangan dan merupakan mulut Teluk Benoa seperti yang terlihat pada Gambar 13. Pada kondisi ini terjadi pasang tertinggi dengan energi pasut yang tinggi juga, sehingga menyebabkan kecepatan arus yang tertinggi diantara kondisi pasut yang lain. Di wilayah dekat daratan kecepatan arus mendekati nol, tidak ada gerakan massa air sama sekali. Pada kondisi surut purnama yang nampak di Gambar 14, terjadi elevasi air surut rendah terendah dengan kecepatan arus berkisar antara 0 – 0,84 m/s, dengan kecepatan arus tertinggi berada di dalam Teluk Benoa (lingkaran hitam) mencapai 0,84 m/s. 

Gambar 13. Kondisi Arus pada Kondisi Pasang Purnama. 

Gambar 14. Kondisi Arus pada Kondisi Surut Purnama. 

Pada kondisi ini hampir setengah dari Teluk Benoa memiliki kecepatan arus mendekati nol, dan terlihat adanya daratan/pasir yang muncul dan berada di atas elevasi pasut surut purnama. Pada kondisi pasang perbani tahun 2016 kecepatan arus berkisar antara 0 – 0,52 m/s, kecepatan arus tertinggi berada pada beberapa celah sempit di Pulau Serangan, sekitar dermaga Pelabuhan Benoa, Tanjung Benoa dan di dalam Teluk Benoa di sekitar kaki-kaki pondasi dari Tol laut (lingkaran merah) (Gambar 15). Sedangkan pada kondisi surut perbani kecepatan arus berkisar antara 0,02 - 0,3 m/s, dengan kecepatan tertinggi berada pada bagian Timur Laut Pulau Serangan dengan kecepatan mencapai 0,3 m/s, dan di bagian Utara Tanjung Benoa yang merupakan mulut Teluk Benoa dengan kecepatan mencapai 0,22 m/s, di wilayah pesisir Teluk Benoa kecepatan menjadi minimal dengan kisaran mencapai <0,02 m/s (Gambar 16). Dapat dikatakan Teluk Benoa menjadi tenang saat surut perbani.

Gambar 15. Kondisi Arus pada Kondisi Pasang Perbani. 

Gambar 16. Kondisi Arus pada Kondisi Surut Perbani.

KESIMPULAN 

Arus laut yang terjadi di perairan Teluk Benoa Bali secara umum dipengaruhi secara signifikan oleh pasang surut air laut. Arus laut di perairan Teluk Benoa dan sekitarnya berkisar antara 0,001 - 1,715 m/s (data pengamatan bulan Juni - Juli 2015). Saat purnama kecepatan arus lebih tinggi dari pada saat perbani. Pada umumnya bagian mulut teluk memiliki arus yang cukup tinggi (mencapai 1,715 m/s saat purnama), dengan pola yang tidak beraturan akibat pengaruh perlintasan kapal dan aktivitas keluar masuk teluk.

UCAPAN TERIMA KASIH 

Terimakasih kepada Kepala LRSDKP Bungus - BRSDM KKP, yang telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan penelitian ini. Terimakasih kepada PT. TWBI, atas dukungan/pemberian data pengukuran kepada kami. Terimakasih juga kepada teman-teman peneliti, asisten peneliti, teknisi, dan administrasi LRSDKP yang membantu terlaksananya seluruh kegiatan penelitian sampai selesai.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana, K. dan M. S. Mahendra. (2009). Study of Pollutant Distribution in Benoa Bay Using Numerical Simulation and Satellite Data. Jurnal Echotropic – Universitas Udayana, Vol 3 (2): 81 – 86.

BIG [Badan Informasi Geospasial]. (2016). Data Pasang Surut Perairan Teluk Benoa Bali tahun 2015 (Stasiun Pengukuran di Pelabuhan Benoa).

BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika]. (2016). Data Curah Hujan dan Angin Rata-Rata Bandara Ngurah Rai Denpasar tahun 2015.

Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting, dan Sitepu. (2013). Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Balai Pustaka Press: Cetakan ke 5, 328 hal, p.36. Jakarta.

Danial, M. M. (2008). Rekayasa Pantai (Coastal Engineering). Penertbit: Alfabeta. Bandung.

Elizabeth N., D-Y Lee., A. Rishert., D. Ludy., dan Staf COSEE Coastal Trends. (2009). Investigate Current Research. http://www.teachoceanscience.net/teaching_resources/education_modules/fish_and_physics/investigat e_current_research/. [Akses 28 Februari 2017].

Hadi, S. dan Radjawane I. (2011). Arus Laut. Institut Teknologi Bandung Press: Bandung.

Hendrawan, I. G., W. Nuarsa, W. Sandi, A. F. Koropitan, dan Y. Sugimori. (2005). Numerical Calculation for the Residual Tidal Current in Benoa Bay – Bali Island. Jurnal Remote Sensing and Earth Sciences. Vol 2: 86 - 93.

Morey, S.L., J. F. Shriver., dan J. J. O’Brien. (1999). The Effect of Halmahera on the Indonesian Throughflow. Journal of Geophysical Research, Vol.104 (C10): 23,281-23,296.

Pranowo, W. S., ARTD Kuswardhani, Terry LK, Utami RK, Salvianty M, dan Semeidi H. (2006). Menguak Arus Lintas Indonesia. Ekspedisi INSTANT 2003-2005. Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Non- hayati, BRKP, DKP. Cetakan kedua: 74 hal, p.15.

Stewart, R. H. (2008). Introduction to Physical Oceanography. Department of Oceanography. Texas A & M University. p 181.

Sudiarta, K., I.G. Hendrawan, K.S. Putra, dan I.M.I. Dewantama. (2013). Kajian Modeling Dampak Perubahan Fungsi Teluk Benoa untuk Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) dalam Jejaring KKP Bali. Jakarta. Laporan Conservation International Indonesia (CII).

Sugianto, D. N dan Agus ADS. (2007). Studi Pola Sirkulasi Arus Laut di Perairan Pantai Provinsi Sumatera Barat. Jurnal Ilmu Kelautan. UNDIP. Vol. 12 (2): 79 – 92, p.80.

Sutirto dan D. Trisnoyuwono. (2014). Gelombang dan Arus Laut Lepas. Graha Ilmu. Cetakan 1: 134 hal, p. 94.

Theoyana, T. A., W. S. Pranowo., Anastasia R.T.D.K., dan Purwanto. (2015). Karakteristik Arus Pasang Surut di Selat Badung, Bali. Jurnal Segara. Vol. 11 (2): 115 – 123.

Thurmann, Harold V. (2010). Introductory Oceanography 2nd. Charles E. Merrill Publishing Company - Bell and Howell Company. Columbus Toronto. London. Digital Publication By The Internet Archive.

University of Hawaii Sea Level Center - USA. Data Pasang Surut Perairan Teluk Benoa Bali (Stasiun Pengukuran di Pelabuhan Benoa). http://www.ioc- sealevelmonitoring.org/station.php?code=beno [Akses Bulan September 2016].

Yuningsih, Ai. (2011). Potensi Arus Laut untuk Pembangkit Energi Baru Terbarukan di Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur. Majalah Mineral dan Energi. Litbang Kementerian ESDM. Vol 9 (1): 61 – 72.


Rabu, 21 Januari 2015

PENGARUH AIR LAUT PASANG DAN CURAH HUJAN TINGGI TERHADAP BANJIR DAERAH BUNGUS - KOTA PADANG



PENGARUH AIR LAUT PASANG DAN CURAH HUJAN TINGGI TERHADAP BANJIR DAERAH BUNGUS - KOTA PADANG

Try Al Tanto
Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Balitbang KP-KKP
email: try.altanto@gmail.com

Abstract

West Sumatera Province is one of Indonesia’s region which is not obvious different about rainy and summer day. In the Bungus Area, Padang - West Sumatera, rainy are occuring in every month, but rainfall almost usually occuring in September until December. Flood in several locations at the area in October and November 2013, prompting a desire to knowing the causes. The method used is a simple analyze from primary data, tide (intervals of 1 hour) and rainfall (intervals of 10 minutes), and secondary data such as elevation DEM  are expected to explain the incident. The results of the analysis indicate that the flooding caused by accumulation of tidal events and high rainfall. Flood on October 19th 2013 cause lane disconnected, the high tide occur at 19.00 pm as high as 124.6 cm has surged since 13.00 pm. The condition compounded by rain for 4 hours in that time with intensity 163.48 mm/hour and maximum rainfall 49 mm at 16.32 pm. Flood on November 4th 2013 drown the settlement and fishing ports. The highest tide was at 19.00 pm by 135.7 cm. Rainfall ranging up since 15.52 pm, with the highest rainfall of 49.9 mm at 17.42 pm and 153.05 mm/hour of intensity.

Keywords : Tide, Rainfall, Flood, Bungus - Kota Padang

Abstrak

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang tidak jelas perbedaan musim hujan dan kemaraunya. Pada kawasan Bungus, Padang - Sumatera Barat, hujan terjadi hampir tiap bulannya, namun curah hujan cukup banyak biasanya terjadi bulan September hingga Desember. Kejadian banjir beberapa lokasi di kawasan tersebut pada bulan Oktober dan November 2013, mendorong keinginan untuk lebih mengetahui penyebabnya. Metode yang digunakan adalah analisis sederhana dari data primer, pasang surut (interval 1 jam) dan curah hujan (interval 10 menit), serta data sekunder berupa elevasi DEM yang diharapkan dapat menjelaskan kejadian tersebut. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa banjir terjadi akibat akumulasi kejadian pasang laut dan curah hujan tinggi. Banjir tanggal 19 Oktober 2013 menyebabkan jalur jalan terputus, pasang tertinggi terjadi jam 19.00 WIB sebesar 124.6 cm, mulai naik sejak jam 13.00 WIB. Kondisi tersebut diperparah oleh hujan selama ±4 jam dalam rentang waktu kejadian dengan intensitas 163.48 mm/jam dan curah hujan maksimum 49 mm pada jam 16.32 WIB. Sedangkan banjir tanggal 4 November 2013 mengenangi pemukiman dan pelabuhan perikanan. Pasang tertinggi masih terjadi jam 19.00 WIB sebesar 135.7 cm. Curah hujan mulai naik sejak jam 15.52 WIB, dengan curah hujan tertinggi jam 17.42 WIB sebesar 49.9 mm dan intensitas hujan sebesar 153.05 mm/jam.

Kata Kunci : Pasang Surut Air Laut, Curah Hujan, Banjir, Bungus - Kota Padang

Senin, 03 November 2014

INDEKS KERENTANAN PESISIR DI PULAU SEBUKU KALIMANTAN SELATAN

Tanto, Try Al, and Yayat Abdillah. 2014. “Indeks Kerentanan Pesisir di Pulau Sebuku Kalimantan Selatan.” In Pertemuan Ilmiah Nasional Tahunan X ISOI 2013. Jakarta (ID): Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia.


INDEKS KERENTANAN PESISIR DI PULAU SEBUKU
KALIMANTAN SELATAN

COASTAL VULNERABILITY INDEKS  IN SEBUKU ISLAND
SOUTH KALIMANTAN

Try Al Tanto dan Yayat Abdillah
Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir
Jl. Raya Padang-Painan Km.16, Padang
email: try.altanto@gmail.com/try_altanto@yahoo.com

ABSTRACT
Coastal areas and small islands get the biggest impact of climate change. Small islands have special characteristics and vulnerabilities that require different management from other mainland regions. Sebuku Island is one of small islands in Kota Baru District of South Kalimantan cannot be separated from the problem of coastal vulnerability. Sebuku Island has a more stable geodynamic characteristics which do not occur removal and decrease the earth's crust, so that the study of coastal vulnerability related to physical variables fits performed in this area. The research objectives are to identify the condition and vulnerability of the coast, and the coastal vulnerability mapping in Sebuku Island. For this reason analysis of the coastal vulnerability to Sebuku Island, to determine the area of coastal vulnerability index was carried out. Geographic Information System (GIS) is used to analyze the information about elevation, beach slope, shoreline displacement, mean tidal range and the wave. Map of coastal vulnerability index shows that the Sebuku Coastal has a high vulnerability with value index 3.02-3.82 and quantity of coastal area of 92.8%.  The 1.7 % coastal area has a very high vulnerability with value index 4.07 and  the 5.5 % coastal area with 2.02-2.97 value index mean while has an index moderate.

Keywords : Coastal Vulnerability, CVI, Sebuku Island, South of Kalimantan

ABSTRAK
Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil mendapatkan pengaruh perubahan iklim paling besar. Pulau kecil memiliki karakteristik dan kerentanan khusus yang memerlukan pengelolaan berbeda dari wilayah daratan lainnya. Pulau Sebuku merupakan salah satu pulau kecil yang berada di Kabupaten Kota Baru Kalimantan Selatan, tidak dapat terlepas dari permasalahan kerentanan pesisir tersebut. Pulau Sebuku memiliki karakteristik geodinamika yang lebih stabil dimana tidak terjadi pengangkatan dan penurunan kerak bumi, sehingga studi kerentanan pesisir yang terkait dengan variabel-variabel fisik cocok dilakukan pada daerah ini. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi kondisi dan kerentanan pesisir, serta memetakan tingkat kerentanan pesisir tersebut di Pulau Sebuku. Penelitian ini menganalisa informasi mengenai elevasi, kelerengan, perubahan garis pantai, rata-rata tunggang pasut, dan tinggi gelombang, dengan menggunakan analisa Sistem Informasi Geografis (SIG). Peta indeks kerentanan pesisir yang diperoleh menunjukkan bahwa pesisir Pulau Sebuku memiliki kerentanan yang tinggi dengan nilai indeks 3.02-3.82. Sebesar 92.8% luasan pesisir Pulau Sebuku memiliki indeks kerentanan yang tinggi tersebut. Kerentanan sangat tinggi memiliki nilai indeks 4.07 dengan luas daerah pesisir sebesar 1.7%,  dan nilai indeks 2.02-2.97 menunjukkan kerentanan pesisir sedang dengan luas daeran pesisir sebesar 5.5%.

Kata kunci : Kerentanan Pesisir, IKP,  Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan


I. PENDAHULUAN 

Indonesia memiliki kepulauan terbanyak di dunia, dimana ribuan pulau kecil dan besar bertebaran di Nusantara. Berdasarkan survei geografi dan toponimi yang berakhir pada tahun 2010, diketahui bahwa Indonesia memiliki 13.466 pulau (Nasional Geographic Indonesia, 2012). Wilayah pesisir memiliki penduduk yang sangat padat, diperkirakan jumlah penduduk yang tinggal di daerah pesisir Indonesia adalah sekitar 60%. Dengan meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah pesisir maka akan memberikan berbagai dampak tekanan terhadap lingkungan pesisir (Tarigan, 2007). 

Perubahan iklim telah nyata dirasakan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang merupakan area sangat rentan terkena dampaknya. Pulau kecil merupakan entitas daratan yang memiliki karakteristik dan kerentanan khusus, sehingga pengelolaan pulau kecil memerlukan format yang berbeda dengan wilayah daratan. Studi tentang kerentanan pesisir terhadap variabel-variabel fisik yang mempengaruhi dinamika pantai menjadi salah satu fokus utama kegiatan penelitian. 

Pulau Sebuku merupakan salah satu pulau kecil yang berada di Kabupaten Kota Baru, Propinsi Kalimantan Selatan dengan luas sekitar 245.5 km2. Di sebelah utara, timur, dan selatan pulau ini berbatasan dengan Selat Makasar, sedangkan bagian barat berbatasan dengan Selat Sebuku. Pulau ini juga merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kota Baru dengan Ibukotanya Sungai Bali (Bappeda Kota Baru, 2011). Pulau Sebuku memiliki karakteristik geodinamika yang lebih stabil dimana tidak terjadi pengangkatan dan penurunan kerak bumi, sehingga studi kerentanan pesisir yang terkait dengan variabel-variabel fisik cocok dilakukan pada daerah ini. Pulau ini terkenal dengan deposit batu bara, bijih besi dan minyak bumi, yang saat ini sudah digarap oleh beberapa perusahaan swasta (Bappeda Kota Baru, 2011). Dengan kondisi tersebut tentunya dapat mempengaruhi terhadap kerentanan pesisir pulau. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi dan kerentanan pesisir, serta memetakan tingkat kerentanan pesisir Pulau Sebuku.

II. METODE PENELITIAN

Data primer diperoleh dengan melakukan pengukuran kualitas air di Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan pada bulan Juni 2012. Kualitas air diukur pada 4 titik darat (sungai atau sumur) dan 10 titik di laut sekitar pulau. Titik pengukuran pada darat ditandai dengan titik A, B, C dan D, sedangkan pengukuran laut pada titik 1 sampai dengan 10. Titik sampel ditentukan berdasarkan lokasi aliran sungai yang bermuara ke laut, yang tentunya dapat memengaruhi salinitas pada air sungai ataupun air laut, juga pada sumur-sumur yang berada di sekitar pesisir pantai tempat pemukiman warga. 

Data sekunder yang dikumpulkan selama penelitian ini adalah informasi elevasi, kelerengan, perubahan garis pantai, rata-rata tunggang pasut, dan tinggi gelombang. Analisis kelerengan dilakukan dengan menggunakan data elevasi SRTM 90m DEM (The CGIAR Consortium for Spatial Information, 2012). Peta kelerengan diperoleh dari DEM melalui proses terrain slope yang kemudian dikelaskan berdasarkan kelas kemiringan lereng. Analisis perubahan garis pantai dilakukan dengan menggunakan data citra Landsat tahun 2003 dan 2012 (USGS Science for a Changing World, 2012). Data pasang surut diperoleh dengan melakukan model/prediksi, menggunakan software Oregon Tidal Prediction Service (OTPS). Perhitungann yang dilakukan dengan menggunakan komponen harmonik yang diturunkan dari data altimeter satelit Topex/Poseidon yaitu data sea surface height. Data gelombang diperoleh dari data satelit (European Centre for Medium-Range Weather Forecast, 2012) berupa tinggi gelombang signifikan. Variabel-variabel data fisik tersebut dipilih karena peranannya yang penting dalam menentukan kerentanan daerah pesisir terhadap faktor alam yang mendukung dan mempengaruhi dinamika pantai. Data lainnya yang juga berguna dalam penelitian adalah data batimetri yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG), untuk mengetahui morfologi dasar laut di sekitar Pulau Sebuku.

Sebelum melakukan pengolahan data kerentanan pesisir Pulau Sebuku, dilakukan identifikasi awal berupa cek lapangan. Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan Birk, kegiatan cek lapangan dilakukan dengan pengukuran kualitas air, profil pantai, serta wawancara dengan masyarakat setempat. Alat yang digunakan saat cek lapangan adalah TOAA Multi-parameter untuk mengukur kualitas air, kompas geologi untuk mengukur profil pantai pada titik A dan D. Pengambilan data kualitas air dilakukan untuk melihat apakah terjadi intrusi air laut terhadap daratannya, karena sebagai pulau kecil sangat rentan dari pengaruh intrusi air laut tersebut. Untuk data profil pantai diambil gambaran umum kondisi pulau. Wawancara yang dilakukan kepada masyarakat berupa informasi yang terkait dengan kejadian-kejadian yang pernah ada sebelumnya berupa pasang tertinggi ataupun rob. Dari hasil wawancara ini akan semakin menguatkan hasil analisis dan pengolahan yang dilakukan.

Setelah dilakukan pengukuran dan cek lapangan, pengolahan data kerentanan pesisir Pulau Sebuku dilakukan dengan analisis SIG. Analisis yang digunakan terbatas hanya berkaitan dengan identifikasi kerentanan pesisir. Variabel yang digunakan dalam pengolahan berupa variabel fisik, yaitu perubahan garis pantai, kemiringan pantai, kisaran pasang surut, dan tinggi gelombang yang akan mewakili dari kerentanan pesisir di Pulau Sebuku.

Gambar 1. Lokasi Survei Lapang

      Tabel 1. Parameter Fisik Kerentanan Pesisir Pulau Sebuku
     Sumber: Modifikasi dari Farida dan Kanchana (2011); Thieler, E. Robert dan E. S. Hammar-Klose (1999);
            Thieler, E. Robert dan E. S. Hammar-Klose (2000); dan Khrisnasari, Andrena (2007)

Persamaan yang digunakan untuk menghitung kerentanan pesisir (Modifikasi dari Farida dan Kanchana, 2011) adalah:




Keterangan:
CVI = Indeks Kerentanan Pesisir 
W1 = Nilai perubahan garis pantai
W2 = Nilai kemiringan pantai
W3 = Nilai tinggi gelombang
W4 = Nilai kisaran pasang surut
X1 = Bobot perubahan garis pantai
X2 = Bobot kemiringan pantai
X3 = Bobot tinggi gelombang
X4 = Bobot kisaran pasang surut

Nilai indeks kerentanan pesisir yang diperoleh dari perhitungan tersebut diklasifikasi menurut tingkat kerentanan yang terjadi, yaitu:

Tabel 2. Klasifikasi kerentanan pesisir CVI



Sumber: modifikasi dari Doukakis dalam Wahyudi, 2009

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pada umumnya Pulau Sebuku dikelilingi oleh vegetasi mangrove yang cukup luas. Hal ini terlihat pada bagian barat pulau, yaitu titik 1, 2, 3, 4 dan 10 yang terdapat hamparan tanaman mangrove yang luas dan tidak terlihat adanya pesisir pantai. Pada daerah bagian barat pulau, yang berdekatan dengan titik sampling 3 terdapat aktifitas penambangan batu bara pinggir pantai. Pada bagian timur pulau (titik 6, 7, 8 dan 9) merupakan pantai berbatu, bertebing, yang terdapat pepohonan dan juga beberapa tanaman mangrove. Tipologi pulau bagian barat dan timur di Pulau Sebuku yang cukup berbeda secara signifikan ini, terjadi akibat sifat fisik perairan sekitarnya. Bagian barat yang berbatasan dengan Selat Sebuku merupakan perairan dangkal dengan gelombang yang cukup tenang. Sedangkan bagian timur pulau yang berbatasan dengan Selat Makasar memiliki gelombang yang cukup tinggi.

Untuk Pulau Sebuku bagian utara dan selatan memiliki pesisir pantai, sehingga dapat diperoleh gambaran tipologi pantai kedua lokasi tersebut. Pantai bagian utara (Desa Tanjung Mangkok/Titik D) Pulau Sebuku memiliki pesisir yang cukup luas dengan kelandaian yang relatif kecil. Sejauh 200 meter bahkan lebih pesisir utara Pulau Sebuku ini memiliki kelandaian < 2°, dengan tipologi pantai berupa pantai berpasir yang terdapat karang mati, dan dengan kondisi gelombang cukup tenang yang terlihat pada saat air surut. Kondisi air sumur daerah ini diduga terjadi intrusi air laut dimana air sumur yang berjarak sampai beberapa ratus meter dari garis pantai masih terasa asin pada saat laut surut dan mengakibatkan air sumur tidak dapat digunakan oleh warga untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Tabel 3. Parameter Fisik dan Kimia di Lokasi Sampling 

Sedikit berbeda dengan pantai bagian utara, pantai Pulau Sebuku bagian selatan (Desa Sekapung/titik A) memiliki kondisi gelombang yang cukup tinggi. Hal ini sangat terasa sewaktu melakukan pengitaran pulau dengan speedboat, mengharuskan pengemudi mengambil jalur yang cukup jauh ke arah laut karena tidak bisa dilakukan penelusuran di dekat pantai akibat hempasan ombak yang besar tersebut. Keadaan tersebut juga dikuatkan dari data tinggi gelombang signifikan yang terjadi pada waktu survei, yaitu mencapai 1 meter lebih (Gambar 7). Tipologi pantai bagian selatan ini berpasir dengan adanya karang mati, kelandaian berkisar antara 2-6° (Tabel 1) dengan kategori sedang, dan memiliki lebar pantai sebesar 39.5 m. Pada lokasi titik A ini terlihat adanya abrasi yaitu sekitar 60 cm. Menurut warga setempat, sekitar tahun 1990-an kondisi pantai di Desa Sekapung lebih luas lagi dari yang terlihat sekarang. Begitu juga dengan kondisi air sumurnya yang masih terasa tawar dan bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Berbeda dengan keadaan sekarang, airnya terasa asin bahkan sumur-sumur sering kering. Hal ini diduga terjadi intrusi air laut ke darat. Selain itu menurut warga, pernah terjadi pasang maksimum pada tahun 2009, yang mengakibatkan air laut naik jauh ke arah daratan. Pada daerah bagian selatan pulau yang berdekatan dengan titik sampling 5 juga terlihat aktifitas penambangan batubara.

Hasil pengukuran lain berupa parameter fisik dan kimia air laut pada titik sampling adalah pH dengan kisaran 7.81-8.09, nilai ini mewakili nilai pH air laut yang mengalami pengaruh air tawar dari sungai. Nilai DO berkisar antara 4.07-4.75 mg/L, konduktivitas berkisar 4.24-4.71 mS/cm, turbiditas berkisar 0-24.2 JTU, nilai suhu berkisar antara 27.8-31.3°C, dan sigma-t berkisar 16.9-19.4. Sedangkan parameter fisik dan kimia air sumur ataupun sungai pada titik sampling adalah pH dengan kisaran 6.98-8.58, yang merupakan nilai kisaran pH untuk air tawar, namun air sumur pada titik A dan titik D sedikit dipengaruhi oleh sifat air laut. Nilai DO berkisar antara 1.6-4.96 mg/L, konduktivitas berkisar 0.108-41.1 mS/cm, dan suhu berkisar antara 25.9-30.9°C. Untuk nilai turbiditas dan sigma-t pada air sumur ataupun sungai bernilai nol.

3.1. Batimetri 

Kedalaman perairan Pulau Sebuku terlihat perbedaan signifikan (Gambar 2), yang mana perairan bagian barat pulau lebih dangkal daripada perairan sebelah timurnya. Hal ini diakibatkan perairan sebelah timur Pulau Sebuku berhadapan langsung dengan Selat Makasar (laut lepas). 

Pada Selat Makasar terlihat adanya beberapa bentuk Ridge, yaitu punggungan / pegunungan dasar laut dengan puncak sempit dan lerengnya curam. Bentukan dari Ridge jika terangkat dapat membentuk suatu daratan yang berupa pulau kecil. Kedalaman laut disekitar Pulau Sebuku masih tergolong dangkal, berkisar kurang dari 50 meter. Bagian barat pulau (Selat Sebuku) memliki kedalaman yang lebih dangkal lagi, hanya berkisar 2 – 5 meter. Nilai cukup dalam berada di Selat Makasar, bagian timur Pulau Sebuku dengan kedalaman mencapai 40 meter.

Gambar 2. Peta 3D Batimetri Pulau Sebuku dan Sekitarnya

3.2. Perubahan Garis Pantai 

Dari hasil analisis yang dilakukan, terlihat perubahan garis pantai Pulau Sebuku dari tahun 2003 sampai tahun 2012 berkisar sedang (Tabel 1). Perubahan garis pantai sangat tinggi banyak terjadi pada pantai bagian selatan. Hal ini dapat terjadi karena kondisi gelombang yang cukup drastis (Gambar 7) pada daerah ini menyebabkan terjadi pengikisan pantai oleh gelombang (abrasi). Perubahan garis pantai sangat kecil terjadi pada bagian barat pulau, yang kebanyakan ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Perubahan garis pantai cukup besar juga terdapat pada bagian barat daya, kemungkinan besar terjadi akibat penebangan pohon mangrove pada daerah ini.

Gambar 3. Peta Kerentanan Pesisir Pulau Sebuku Berdasarkan Perubahan Garis Pantai

3.3. Elevasi/Kelerengan

Berdasarkan elevasi Pulau Sebuku, kerentanan tinggi terjadi disepanjang pantai bagian barat. Hal ini diakibatkan karena berdasarkan peta elevasi Pulau Sebuku, daerah barat ini dianggap memiliki daratan yang cukup rendah. Ketinggian (elevasi) daerah bagian barat Pulau Sebuku yaitu berkisar antara 5 – 40 m, dan kelerengan cukup terjal terjadi pada bagian utaranya yang mencapai ketinggian 40 m. 

Berbeda dengan bagian timur pulau, yang memiliki daratan cukup tinggi serta terjal. Hampir di sepanjang pesisir pantai bagian timur Pulau Sebuku memiliki elevasi yang tinggi, yaitu berkisar antara 15 - 130 m, dan sangat sedikit bagian daerah ini yang memiliki kelerengan yang tidak terjal. Sehingga analisis kerentanan pesisir berdasarkan elevasi pada bagian timur pulau sedang, bahkan ada yang sangat rendah.

Gambar 4. Elevasi Sepanjang Pesisir Pantai Pulau Sebuku Bagian Barat Gambar

Gambar 5. Elevasi Sepanjang Pesisir Pantai Pulau Sebuku Bagian Timur Gambar

Gambar 6. Peta Kerentanan Pesisir Pulau Sebuku Berdasarkan Elevasi/Kelerengan 

3.4. Tinggi Gelombang 

Nilai kisaran tinggi gelombang signifikan yang diperoleh pada bulan juni 2012 berkisar antara 0.24 – 1.38 m. Dari nilai kisaran tinggi gelombang tersebut dapat diketahui bahwa range tinggi gelombang adalah sebesar 1.14 m. Sehingga dari nilai tersebut diperoleh hasil analisis kerentanan pesisir Pulau Sebuku berdasarkan range tinggi gelombang adalah sedang (kisaran 1 – 1.5 m).

Gambar 7. Grafik Tinggi Gelombang Signifikan di Perairan Pulau Sebuku

3.5. Pasang Surut

Pasang surut yang terjadi di perairan Pulau Sebuku adalah tipe campuran (mixed tide), yang dapat dilihat dari grafik pasang surut yang dihasilkan. Penentuan tipe pasang surut juga ditentukan dengan menggunakan formulasi bilangan Formzahl. Berikut komponen pasang surut yang diperoleh dari data 15 hari dengan analisis Admiralty.

Tabel 4. Komponen Pasang Surut Perairan Pulau Sebuku

Nilai bilangan Formzahl yang dihasilkan adalah 0.6858, yang berarti pasang surut yang terjadi adalah campuran condong semi diurnal (0.25 ≤ F ≤ 1.5). Dimana dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan bentuk gelombang pasang pertama tidak sama dengan gelombang pasang kedua, namun lebih condong semi-diurnal. Berikut tampilan grafik pasang surut perairan sekitar Pulau Sebuku.

Dari data nilai tinggi muka air yang terjadi pada bulan Juni 2012 hasil data pemodelan tersebut, dapat diketahui bahwa nilai pasang tertinggi sebesar 128.29 cm dan nilai surut terendah sebesar -113.11 cm. Dengan nilai pasang tertinggi dan terendah ini sehingga diperoleh nilai kisaran pasut (tidal range) sebesar 241.4 cm (Gambar 8). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh pasang surut air laut terhadap kerentanan pesisir Pulau Sebuku sangat tinggi (Tabel 1).

Gambar 8. Grafik Pasang Surut Perairan Pulau Sebuku

3.6. Indeks Kerentanan Pesisir (IKP) Pulau Sebuku 

Peta indeks kerentanan pesisir Pulau Sebuku diperoleh dengan penggabungan analisis proses fisik yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu analisis perubahan garis pantai, analisis elevasi/kelerengan, analisis kisaran pasang surut dan analisis tinggi gelombang.
Gambar 9. Peta Indeks Kerentanan Pesisir Pulau Sebuku

Terlihat dari peta hasil pengolahan (Gambar 9), bahwa kondisi pesisir Pulau Sebuku memiliki kerentanan yang tinggi. Nilai indeks yang menunjukkan kerentanan pesisir tinggi tersebut adalah 3.02-3.82. Nilai indeks 4.07 menunjukkan kerentanan pesisir sangat tinggi, dan nilai indeks 2.02-2.97 menunjukkan kerentanan pesisir sedang.

Tabel 5. Nilai IKP Pulau Sebuku

Luas pesisir Pulau Sebuku yang memiliki indeks kerentanan tinggi tersebut adalah 2661.83 Ha (26,618,278 m2) atau 92.8%, seluas 50.2 Ha (501,975 m2) atau 1.7% dengan indeks kerentanan sangat tinggi, dan seluas 156.56 Ha (1,565,555 m2) atau 5.5% dengan indeks kerentanan pesisir sedang.

IV. KESIMPULAN 

1. Intrusi air laut terjadi pada Desa Sikapung dan Desa Tanjung Mangkok, untuk pesisir Desa Sikapung terjadi abrasi setinggi 60 cm.
2. Sebagian besar pesisir Pulau Sebuku memiliki kerentanan yang tinggi dengan nilai indeks 3.02-3.82 dan luas sebesar 92.8% pesisir P. Sebuku.
3. Luas pesisir Pulau Sebuku yang memiliki nilai indeks kerentanan sangat tinggi 4.07 adalah sebesar 1.7% dan 5.5% luas pesisir dengan nilai indeks kerentanan pesisir sedang 2.02-2.97.

SARAN 
Perlu kewaspadaan masyarakat di sekitar Pulau Sebuku dan aparat pemerintah
dalam kegiatan ataupun rencana pembangunan di daerah pesisir pulau. Kewaspadaan akan aktifitas berupa penambangan pinggir pantai yang berjalan perlu pemantauan dan pengelolaan lebih lanjut lagi, sehingga dapat mengurangi resiko bahaya yang akan terjadi ataupun yang sudah mulai terjadi.

UCAPAN TERIMAKASIH 
Terimakasih kami ucapkan kepada Kepala LPSDKP, karena telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan penelitian ini dan juga membantu dalam kegiatan penelitian. Terimakasih kepada Bapak Dr. Sugiarta Wirasantosa dan Bapak Dr. John. I. Pariwono selaku Narasumber kegiatan. Masukan, saran dan arahan beliau menjadikan kami dapat menyelesaikan kegiatan penelitian secara tuntas. Tidak lupa ucapan terimakasih kami kepada instansi pemerintah daerah setempat, Dinas Kelautan dan Perikanan dan Bappeda Kabupaten Kota Baru yang telah membantu dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan di daerah studi.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kota Baru, 2011. Kajian Penyusunan Zonasi Pulau Sebuku - Kabupaten Kotabaru. Laporan Akhir, hal 5, 22 dan 23.
Birk, Thomas. Impacts of Climate Change on Pacific Atolls: Vulnerability and Adaptive Capacity. A case study from Ontong Java atoll, Solomon Islands. Department of Geography and Geology, Universitas of Copenhagen.
Duriyapong, Farida dan Kanchana Nakhapakorn. 2011. Coastal Vulnerability assessment: A Case Study of Samut Sakhon Coastal Zone. Faculty of Environment and resource Studies, Mahidol University, Thailand.
European Centre for Medium-Range Weather Forecast, 2012. (http://data-portal. ecmwf.int/data/d/edit/personal/temporary/netcdf18/, diakses 12 Desember 2012).
Khrisnasari, Andrena, 2007. Kajian Kerentanan Terhadap Kenaikan Muka Laut di Jakarta Utara. Tugas Akhir. Program Studi Oseanografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Nasional Geographic Indonesia, 2012. (http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/ 02/hanya-ada-13466-pulau-di-indonesia, diakses Desember 2012).
Tarigan, M. Salam. 2007. Perubahan Garis Pantai di Wilayah Pesisir Perairan Cisadane, Provinsi Banten. Makara, Sains, Vol. 11, No. 1, April 2007: 49- 55. Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI.
The CGIAR Consortium for Spatial Information, 2012. (http://srtm.csi.cgiar.org/ SELECTION/listImages.asp, diakses 12 Desember 2012).
Thieler, E. Robert dan E. S. Hammar-Klose, 1999. National Assessment of Coastal Vulnerability to Sea-Level Rise: Preliminary Results for the U.S. Atlantic Coast, USGS. Open File Report 99-593.
Thieler, E. Robert dan E. S. Hammar-Klose, 2000. National Assessment of Coastal Vulnerability to Sea-Level Rise: Preliminary Results for the U.S. Gulf of Mexico Coast, USGS. Open File Report 00-179.
USGS Science for a Changing World, 2012. (http://glovis.usgs.gov/, diakses bulan Juni 2012).
Wahyudi, T. Hariyanto, Suntoyo. 2009. Analisa Kerentanan Pantai di Wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa Timur. Prossiding. Seminar Nasional Teori dan Aplikasi 2009. Surabaya: Institut Teknologi Semarang.